Pengembaraan 7 tahun #part6: Nuvola

"Awan selalu ada di langit, meski kita jarang menengadah untuk melihatnya. Jauh, diam, tapi tetap setia memberi teduh."


Tahun 2018

Tahun yang berjalan seperti awan di langit siang. Bergerak pelan-pelan, teratur, tanpa hal besar. Tahun yang sebenarnya banyak dinamika, tapi aku hadir laksana penonton di opret kehidupanku sendiri. Di tahun ini aku masih di teater yang sama. Aku juga ikut dalam himpunan sebagai remah-remah organisasi. Adaku sepenting tanpaku, dan aku mulai biasa hidup begitu. Aku berjalan di bawah bayang-bayang awan sambil melihat mereka yang bersinar di bawah terik matahari. Pertemuan tak terjadwal adalah hal yang kutakutkan. Perkumpulan berbasis senang-senang dan sosial tanpa tekanan deadline dan target tak mampu ku ikuti. Hanya basa-basi yang seringkali basi. Aku tidak niat membenci,  atau menghindari. Aku hanya mau sendiri. Tapi aku tak lantas jadi anti berelasi. Aku tetap berteman dan berkomunikasi. Hanya saja...aku tidak suka berada dalam kelompok... Aku lebih suka seperti awan yang melayang bebas di langit. Toh tanpaku taada yang berubah dari dunia.

Pernah suatu waktu aku terlibat dalam sebuah kepanitiaan bagian DDD (desain, dekorasi, dokumentasi). Malam sebelum acara aku dan teman-teman sibuk menghias venue acara. Tak terasa malam datang. Rasanya tanggung untuk makan karena fikirku sebentar lagi juga selesai. Sampai tak terasa waktu sudah hampir jam sebelas malam. Aku pulang diantar teman dan langsung tidur saat di kamar. Pagi hari perutku sakit. Terlalu sakit untuk bangun atau sekedar menjangkau tas mengambil HP. Aku memang punya maag, dan pagi itu kambuh. Tapi beda dari  biasa, saat itu sangat amat sakit. Aku tak bisa apapun kecuali teriak. Sampai akhirnya dada dan leherku juga sesak, aku bahkan tak bisa bernafas lega. Aku ga pernah nyangka kalau asam lambung bisa sekuat itu. Aku mencoba bangun tapi tak berhasil. Saat itu aku merasa hidupku sudah berakhir. Aku tutup mata lagi karena aku ga tau harus apa. Dan ajaibnya tiba-tiba saat aku bangun semua rasa sudah menipis. Perutku masih sakit, tapi paling tidak aku bisa beranjak dari tempat tidur. Aku mengambil HP, sudah jam 8 malam rupanya. Aku mengambil air dan minum sambil melihat-lihat chat grup panitia hari ini. Grup sedikit ramai di pagi hari. Saat briefing dimulai tepat jam 6 banyak yang belum datang. Satu persatu di mention dan ditanyakan, kecuali aku. Sepertinya acara berjalan lancar, toh tugasku di hari H cuma dokumentasi, tim ku tidak lengkap pun ga masalah. Sejenak aku berfikir, aku bisa saja mati hari ini, dan saat itu terjadi mungkin untuk mereka tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Semua orang bisa jadi rekan yang baik. Tapi ga semua bisa jadi teman yang baik.

Di tahun ini juga aku dekat dengan seorang pria. Dibilang teman aku tidak yakin, tapi kita cukup sering bersama. Aku juga lupa sejak kapan aku dekat dengan dia.  Dia suka seseorang di kelas, dan beberapa kali menceritakan tentang wanita itu kepadaku. Dia juga akan dengan mudah mengabaikanku, meninggalkanku, bahkan menjauhiku kalau wanita itu ada di sekitar. Aku tidak menyalahkannya, karena aku tidak berharap punya teman setia juga, aku cuma butuh rekan. Aku justru kasihan, karena apapun yang dia lakukan pada wanita itu, si wanita malah seperti mengacuhkan dan mengabaikan rasanya. Aku juga kadang iseng menguji apakah wanita itu tertarik padanya, tapi sepertinya tidak. Wanita itu malah mengira aku dan si pria yang punya hubungan spesial, padahal kita tak sedekat itu.

Sebenernya banyak hal yang terjadi di tahun ini. Tapi sebagian besar terjadi pada orang lain dimana aku hanya menyaksikan, mendengarkan, membantu sebagai katalis yang tak ikut bereaksi. Tidak berada di pihak protagonis, tidak juga antagonis, tapi ikut merasakan luka yang orang rasa. Kadang terlalu berempati, sampai lupa bahwa diri sendiri punya hati yang harus dicintai. Kadang terlalu mudah berkorban, namun karena hasilku tak sebesar usahaku, maka yang terlihat dariku hanyalah remeh. Selalu kurang, tak pernah sehebat yang lain. Entah mau sebanyak apa aku beri perhatian, tidak cukup baik untuk dianggap baik. Tubuhku berkata jangan terlalu memikirkan orang lain. Tapi orang lain itu seakan berkata "kamu egois, harusnya pikirkan orang lain"


Comments

Popular posts from this blog

Pengembaraan 7 tahun #part7: Firmamento

Pengembaraan 7 tahun #part2: Nebbia

Pengembaraan 7 Tahun #part3: Tempesta