Pengembaraan 7 Tahun #part3: Tempesta
Manusia dapat dengan mudah menghindari badai yang berkecamuk di luar pagar. Memberi penghalang tembok, agar diri tak tersakiti. Tapi mengapa sulit sekali rasanya, mengindari badai yang tercipta dalam fikiran dan hati sendiri? Tahun 2015 Saat Badai Datang Aku mulai terbiasa dengan sepi, mulai terbiasa tuk jadi yang biasa saja, mulai terbiasa tuk berada di balik bayangan. Perlahan-lahan meski tak begitu akrab, teman-teman yang dulu mulai berkumpul lagi. Mungkin tahun ini akan lebih baik , fikirku saat itu. Beruntungnya, atau sayangnya sepi membuatku punya skill baru, yaitu mendengar. Ya memang si aku sudah mulai bisa mendengar sejak lahir, maksudku lebih peka. Kadang aku mendengar ucapan orang yang tak ditujukan kepadaku, atau justru mendengar orang yang membicarakanku. Ya, aku tau, aku tak cantik. Jauh dari kata cantik. Berat badan? jauh dari ideal. Kalau hanya ledek-ledekan di belakang aku sudah tak peduli, tapi kalau sudah mempengaruhi perlakuan, itu dia yang jadi masalah. Masa-...