Pengembaraan 7 Tahun #part3: Tempesta
Manusia dapat dengan mudah menghindari badai yang berkecamuk di luar pagar. Memberi penghalang tembok, agar diri tak tersakiti. Tapi mengapa sulit sekali rasanya, mengindari badai yang tercipta dalam fikiran dan hati sendiri?
Tahun 2015
Saat Badai Datang
Aku mulai terbiasa dengan sepi, mulai terbiasa tuk jadi yang biasa saja, mulai terbiasa tuk berada di balik bayangan. Perlahan-lahan meski tak begitu akrab, teman-teman yang dulu mulai berkumpul lagi. Mungkin tahun ini akan lebih baik, fikirku saat itu.
Beruntungnya, atau sayangnya sepi membuatku punya skill baru, yaitu mendengar. Ya memang si aku sudah mulai bisa mendengar sejak lahir, maksudku lebih peka. Kadang aku mendengar ucapan orang yang tak ditujukan kepadaku, atau justru mendengar orang yang membicarakanku. Ya, aku tau, aku tak cantik. Jauh dari kata cantik. Berat badan? jauh dari ideal. Kalau hanya ledek-ledekan di belakang aku sudah tak peduli, tapi kalau sudah mempengaruhi perlakuan, itu dia yang jadi masalah. Masa-masa SMA semakin berjalan tak nyaman. Sulit bagiku untuk mendapatkan teman sekelompok, hingga akhirnya hanya mendapat apa yang orang-orang sebut grup 'buangan' atau 'sisaan'. Di dalam kelompok seperti itu pun, mereka seperti menyembunyikan banyak hal dariku. Rasanya tidak nyaman kan kalau kita melihat kelompok kita tertawa, kemudian saat kita dekati, semuanya mendadak diam. Atau ketika grup kelas mendiskusikan sesuatu di grup, dan kita satu-satunya yang tak mengerti apa yag mereka bahas.
Hari-hari di tahun 2015 membuatku selalu berfikir setiap saat, 'aku kenapa si?' 'aku salah apa si?'
Hari-hari di tahun 2015 membuatku harus membuat peran di depan cermin sebelum berangkat sekolah. Mengambil 'topeng' baru setiap hari untuk dipakai ke sekolah demi menghindarinya. Menghindari tatapan-tatapan aneh yang orang berikan padaku. Menghindari 'mendengar' mereka yang diam-diam mengundang teman di kelas untuk acara ulang tahunnya kecuali aku.
Hari-hari di 2015 terasa begitu dingin di dalam fikiranku. Rasa-rasanya semua orang menjauhi ku, menghindari ku, menginginkan ku tak pernah ada.
Hari-hari di 2015 penuh badai tak terlihat, dari mereka yang tampak akrab tapi ingin menyingkirkan, dari mereka yang sebelumnya di bully tapi ku tolong dan akhirnya bergabung dengan orang-orang yang pernah merundungnya untuk memusuhiku.
Ada dua manusia( tiga sebenernya tapi yang satu sangat jarang) aneh yang kutemui di tahun itu. Saat pertama kenal mulutnya begitu manis, tapi anehnya, siapapun teman baru yang kuceritakan pada mereka, besoknya mereka mendekati orang itu, dan lusanya...BOOM.... teman baru itu mendadak menghindariku. Setelah satu dua kali, aku menghindari berbicara dengan orang-orang itu. Tapi mereka tetap melakukan hal yang sama. Entah apa yang mereka inginkan.
----
Bertemunya aku dengan si I.
Meski ku punya satu teman yang setia padaku, kami tak pernah sekelas, Karena itu, terkadang aku harus menghabiskan jam istirahat sendirian karena ia sedang ada urusan dengan kelasnya. Saat itu terjadi aku lebih banyak menghabiskan waktu di kebun belakang sekolah yang sepi. Membeli makan dan memakannya sendirian disana. Atau makan di kantin, dan setelahnya kesana. Perlahan aku mulai menyukai suasana kesendirian ini. Entah kenapa semakin tak ada orang aku semakin merasa energiku seperti baterai yang baru diisi ulang. Saat sendiri itu, badai dalam hati ini seperti mereda, menyisakan angin lembut yang menenangkan hati. Mungkin, tanpa ku rencanakan, perlahan aku menjadi lebih Introvert dari sebelumnya.
----
Badai hanyalah angin yang mengamuk dan tak terkendali. Saat terkendali, ia hanyalah angin yang memberi kesejukan dari alirannya yang menyentuh seluruh tubuh.
Pada akhirnya aku berkumpul lagi bersama mereka, kelompok kecilku yang sempat terpecah. Bahkan dia yang tadinya tak ku kenal pun ikut dalam kebersamaan ini. Aku hanya berharap, seberapa banyak yang datang dan pergi, aku ingin mereka ber 5 tetap menjadi teman-temanku.
Comments
Post a Comment