Pengembaraan 7 tahun #part7: Firmamento
"Langit memeluk semua elemen. Ia tidak memilih, hanya menerima. Langit tidak menolak badai, juga tidak memaksa mentari. Ia hanya menjadi tempat semua itu hadir dan berlalu.
Bagai langit yang menjadi wadah cuaca, hidup manusia tidak bisa dipilih cerahnya saja."
Tahun 2019
Saat dimana cahaya langit hampir padam.
Tahun ini cukup istimewa. Aku yang biasa cuma di kota tempat kampus, tahun ini beberapa kali pergi. Awal tahun keluar kota, Tengah tahun KKN di tempat yang cukup jauh. Akhir tahun pun di luar kota. Tapi apa yang terjadi di tengah-tengahnya membuat tahun ini terasa begitu lama. Layaknya langit dengan segala cuaca, semua rasa bermunculan bahkan kadang bercampur aduk di tahun ini. Dan jujur aku sudah coba mulai tulis ini di draft sejak beberapa tahun lalu, tapi ketik hapus ketik hapus terus, belum tau mau menyusun seperti apa agar jelas. Tapi ya kalau difikir-fikir, jelas juga buat siapa sih?
Terkadang langit tak butuh dihantam meteor untuk runtuh. Terkadang awan kecil bertemu dengan awan kecil lain, terbawa bersama angin, bertambah besar, menahan hujan sambil menyambar petir. Semakin banyak awan kecil yang bergabung semakin gelap langit dibuatnya.
Terkadang, manusia ga perlu masalah besar untuk jatuh. Terkadang hal-hal kecil terjadi bagaikan bola salju yang menggelinding dari puncak gunung. semakin besar semakin besar diakselerasi oleh gravitasi. hingga akhirnya hancur di permukaan.
Tahun 2019 dimulai dengan cerahnya mentari. Jalan-jalan keluar kota meski waktu liburan tidak begitu lama. Ada sedikit rasa kecewa karena diri ini tak banyak dekat dengan siapa-siapa, hanya ikut-ikut bergaul dengan kelompok 1 ke kelompok lain. Tapi tetap saja perjalanan satu minggu itu penuh dengan kesenangan. Setelah selesai, aku memasuki semester baru. Dua semester terakhir untuk bersama teman-teman. Kurang dari satu tahun lagi, aku akan sangat jarang bertemu dengan mereka. Di tengah tahun aku ikut KKN di kabupaten yang jauh di Jawa Timur. Disana aku satu kelompok dengan orang-orang yang sebagian besar tak pernah kukenal sebelumnya. Banyak tawa, canda, drama, dan petualangan yang terjadi. banyak memori selama 40 hari seatap dengan mereka. Namun ada satu hal yang aneh padaku.
Saat SMA aku punya beberapa momen menginap dengan teman-teman. Namun setelah kuliah momen itu tak terjadi lagi. Aku tak pernah benar-benar dekat dengan siapapun saat kuliah, tapi aku selalu meyakini bahwa itu tak apa. Aku pada dasarnya penyendiri. Aku senang dengan pergaulan, tapi energiku terisi saat aku sendirian. Saat KKN, sendiri adalah satu-satunya hal yang sulit kudapat. Awalnya kufikir taakan bermasalah. Sampai akhirnya tanpa sadar aku keluar rumah tempat tinggal kami malam-malam. Tujuannya cari angin, hanya saja aku tidak sadar aku sudah berjalan begitu jauh dan sampai membuat panik yang lain. Ada bagian dari diriku yang terus gelisah meski tak ada ancaman berarti di depan mata. Kami menjalani sisa hari KKN layaknya biasa lagi dengan ceria dan energi yang tak hilang.
Aku mencoba memahami diri dibantu temanku. Kebetulan salah satu temanku ada di jurusan yang juga mempelajari psikologi. Ternyata ini bukanlah perasaan tiba-tiba. Ini adalah rasa yang tertahan dari kejadian-kejadian tahun-tahun sebelumnya. Aku selalu bersikap biasa saja, karena aku merasa masalahku tidak cukup besar untuk dianggap masalah. Saat sedih, selalu kuseka air mata dan berkata "banyak orang yang lebih menderita tapi mereka biasa saja, harusnya aku juga". Setiap marah kuyakinkan diri bahwa aku jahat jika aku marah. Setiap kecewa kupaksakan diri untuk bilang "yah namanya juga rencana, ga semua berhasil". Bahkan saat dilupakan, aku tetap mencoba berfikir dalam hati "ya waktunya cuma sampai segitu." Berfikir positif telah membawaku ke hari ini. Tapi tangis itu justru pecah di saat tidak ada hal yang membuatku sedih di depan mata. Temanku bilang, mungkin hati kecilku tak mampu lagi menahan perasaan pura-pura itu dan meledak begitu saja.
Setelah KKN berakhir aku masih berkontak dengannya. Tapi aku masih tak ingin percaya kalau ada teka-teki panjang yang perlu diuraikan di kepalaku. Bagiku, masalah ya masalah. Tinggal pergi, dan semua akan lupa lalu tiba-tiba selesai dengan waktu. Setelah KKN, waktu belajarku benar-benar tinggal di semester terakhir, sisanya hanya penelitian dan skripsi. Hari-hari semakin sibuk. Setiap hari adalah tugas dan banyak diantaranya berkelompok. Aku lelah tapi terlalu tanggung untuk menyerah. Bodohnya, saat setumpuk laporan membuat kepalaku berasap, aku memilih untuk meninggalkan dan ikut himpunan jurusan serta kepanitiaan. Disana bertambah lagi tugas dan tanggung jawab. Juga bertemu lagi dengan orang-orang yang sama dengan masalah yang lainnya. Lalu aku lari lagi ke teater fakultas. Bermain peran di malam hari, seperti melepas penat diantara hari-hari penuh masalah. Tapi hampa makin menebal. Orang yang kulihat juga beberapa masih sama. Obrolannya biasa dan santai, tapi entah kenapa lidah terlalu kelu untuk ikutan bercengkrama. Rasanya hanya bisa berbicara yang penting-penting saja dan sulit untuk berekspresi yang sekedar bercanda. Ada rasa canggung yang sebenarnya aneh, mengingat interaksiku dengan mereka bukanlah kisah 1 hari saja.
Lalu aku pergi lagi, kali ini ke teater kampus mencari pelarian. Aku menjadi bagian 'penting' dalam pementasan besar yang akan segera digelar. Apakah lega? ya tidak. Karena disana juga menyimpan drama di balik panggung. Aku yang saat itu terlalu banyak berlari jadi tak tau harus berlari kemana lagi. Bisik dalam hati bilang kalau aku harus selesaikan bukannya berlari, tapi bagaimana? Saat aku bertanya harus apa, yang ada justru tantangan yang bilang "kamu bisanya apa?" Saat aku mencari orang untuk berbagi, justru yang kudapatkan ungkapan yang saat itu terasa seperti "seharusnya kamu tidak disini". Kucoba kembali ke prioritas awalku pada pendidikan yang sebentar lagi harus usai. Tapi akhirnya aku cuma berlari dari satu pelarian ke pelarian lain. Pelarian-pelarian ini tak ada henti, hanya berputar-putar sesuai keperluan setiap harinya. Aku bukan tak mencoba cari solusi, tapi setiap solusi rasanya selalu menimbulkan masalah baru, hingga akhirnya menjadi tumpukan tumpukan, dan akhirnya kembali aku berlari, dengan masalah 'kecil' yang kini jumlahnya sudah berlipat ganda. Hanya bisa bercerita pada diri sendiri. Sementara suara di kepala yang awalnya berbisik sekarang berteriak. Semua bersautan, ada yang menginstruksi, ada yang menghakimi, ada yang hanya berteriak. Sampai aku tak mampu dengar apapun selain bising. Dari luar tampilanku makin berantakan. Wajah kusam, kantung mata, pakaian asal, bahkan bau badan. Membuat teman-teman merasa risih dan secara halus menjauh. Tak ada yang duduk di kanan-kiri ku lagi saat kuliah. Mataku juga mulai jatuh pada ilusi dalam pikiran. Badanku makin lemah. Sakit kepala dan sakit perut hampir setiap hari. Dalam sebulan mungkin sekali atau dua kali ke klinik hanya karena kepala atau perut. Obat maag dan sakit kepala lebih sering kukonsumsi daripada nasi.
Lalu, aku lupa kapan tepatnya, tapi ilusi itu mulai menyatu dengan realita. Mengaburkan batas nyata tidak nyata. Menipu mata bahkan telinga. Beberapa kejadian silih berganti. Ada saat dimana aku ingin ke kampus, tapi ternyata saat sadar, itu adalah malam. Ada waktu dimana aku yakin aku sudah ambil map presensi kehadiran ke Tata usaha, tapi ternyata aku tak pernah kesana. dan yang paling parah...Ada saat dimana aku tak sengaja hampir menghilangkan nyawaku sendiri. Kejadian pertama saat aku berjalan di trotoar. Aku yakin aku berjalan di trotoar, namun suara klaskson menyadarkanku karena ternyata aku berdiri di tengah jalan dengan mobil yang sudah berjarak 1 cm dari menabrakku. Katanya aku tiba-tiba berhenti saat ditengah menyebrang. Kejadian lain juga pernah terjadi saat aku berfikir aku tengah mengejar seseorang di depanku. aku berlari ingin mengejarnya tapi kemudian kakiku merasakan ujung dari lantai. Saat aku sadar ternyata aku di rooftop salah satu gedung yang belum dipasangkan railing. Telat 1 detik sadar, aku pasti sudah pindah alam. Pernah juga terjadi saat malam hari ketika latihan teater. Aku naik, naik hingga lantai 4. Entah apa yang terjadi aku nyaris melompati railing lantai 4 karena mengira itu lantai 1 dan aku ingin ke sisi seberang dari railing itu.
Kegilaan yang sebelumnya hanya mengusik telinga, sekarang sudah menyerang mata dan persepsiku. Aku tak tau lagi harus gimana. Aku juga takut untuk cerita. Takut jika alasannya terlalu remeh terdengar. Takut terlalu aneh. Takut ini itu. Aku mencurahkan keresahan dalam buku-buku catatanku.
Suatu hari aku duduk di suatu tempat berwifi di kampus. kunyalakan musik asal sambil ku menulis meracau. Saat itu tubuh rasanya sudah lemas. Earphone di telinga tak membuat suara-suara di kepala menghilang atau setidaknya berkurang. Aku menulis kalimat-kalimat yang putus asa. Seakan tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu nyawa ini menghilang. Tepat saat aku menulis "jika hidup hanya membawa derita, lantas apa maknaku bernyawa?". Tiba-tiba tanpa sengaja lagu yang terdengar berlirik seperti "Jika bertanya tentang apa arti nyawa, biasanya hidup pun berakhir..." Seketika aku kaget. Lalu aku memutar lagunya dari awal. Judulnya Birth dari JKT48. Aku menangis mendengarnya. Lagu ini seperti tombol emegency di waktu yang telah genting. Musiknya menggambarkan suasana hati dan otak ku yang tak karuan dan bising. Aku mejelajah lagu-lagu lain dari group ini. Memang saduran, tapi aku senang bagaimana lagu-lagu mereka menemaniku untuk bisa menenagkan diri sendiri meski tak bisa berkata pada siapapun. Setidaknya sekarang aku punya pelarian yang tak menyakiti. Dan tulisanku sebelumnya bisa kuubah jadi cerita fiksi bukan pesan sebelum mengakhiri diri.
Tidak banyak yang berubah setelahnya. Tapi minimal saat itu sudah ada satu dua orang yang aku yakin bisa kuajak cerita. Ia menyarankan untuk melepaskan apa yang tak bisa kupegang. Merelakan kegiatan-kegiatan yang hanya melukaiku makin dalam. Dan aku mulai melakukannya. Aku pamit dari kepanitiaan yang sedang kupegang, himpunan yang katanya 'tanggung' itu, juga kegiatan lain yang jadi pelarian semu. Ditemani temanku, aku juga memberanikan diri ke dokter. Aku dirujuk ke RS dan disana memang dibilang aku memiliki masalah depresi dan kecemasan. Tapi pengalaman ke RS itu justru membuatku tambah depresi. Aku ga mau cerita detailnya tapi aku ga mau lagi kesana. Tapi setidaknya aku mulai dapat gambaran tentang apa yang terjadi dengaku.
Hari-hari terakhir di semester terakhir kuhabiskan untuk lebih fokus lagi. Berhasilkah? tentu tidak. Aku merasa agak telat karena aku mulai melepaskan semua dan mau merubah diri di saat waktu-waktu terakhir perkuliahan. Tapi ya, lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan?
Badai petir mulai berakhir. Awal hitam perlahan terbuka. Langitku belum secerah itu. Tapi aku sudah sampai di titik mulai, bukan lagi terombang-ambing dalam lautan ketidaktauan. Ini akhir cerita pengembaraan 7 tahun ku. Ternyata ujungnya bukan happy atau sad ending, melainkan titik 0 baru.
Aku ingat sebelum libur akhir semester, seorang teman bilang padaku. "Kamu harus cintai diri kamu sendiri dulu, lalu cintai orang-orang di sekelilingmu, lalu mungkin saja orang-orang itu akan mencintai kamu. Dan saat mereka ga memberi perasaan yang sama, setidaknya kamu masih punya diri sendiri"
Comments
Post a Comment