Pengembaraan 7 tahun #part2: Nebbia
"Seperti kabut yang mengaburkan pandangan mata, terkadang ilusi dan kenyatan menyatu hingga tak bisa dipisahkan. Terkadang kebohongan juga mengandug kebenaran, dan kadang kala kejujuran dibumbui titik kebohongan. Bahkan tidak mustahil jiwa yang asli itu ditutupi kabut yang begitu tebal hingga yang terlihat hanya fisiknya yang penuh tipu"
Tahun 2014
Masa-masa awal SMA kujalani dengan penuh ambisi. Juara kelas, les tambahan, ikut organisasi ini itu, ikut acara di luar sekolah, banyak teman, dan dikenal semua orang menjadi target yang ingin ku capai. Selain OSIS aku juga mengikuti kegiatan pramuka dan ekstrakulikuler lain. Berbagai kesibukan menemaniku setiap harinya sampai-sampai putaran waktu terasa menjadi lebih cepat tahun itu. Sepulang sekolah hari ini kegiatan OSIS, besoknya kumpul, weekend kemah pramuka dan sebagainya. Masa-masa sibuk SMA ini lah yang aku inginkan. Harusnya...
Entah kenapa aku merasakan kehampaan di diriku. Sedikit rasa tak percaya diri dalam segala hal yang ku jalani. Rasanya segala hal yang kulakukan tak bisa kulakukan dengan sepenuh hati. Selalu saja ada yang kurang. Misalnya saja di pramuka, rasannya meski sudah cukup lama mengikuti masa 'magang' ini, aku hanya punya sedikit teman. Kehadiran dan ketidakhadiranku terasa sama saja. Bahkan diantara teman-teman ku, mungkin cuma Ary yang selalu ada untukku. Di OSIS pun begitu, meski apapun yang kulakukan, rasanya tidak berdampak apapun bagi semua. Bahkan kerap kali aku dianggap gabut, ga ngapa-ngapain, dsb.Agak berbeda mungkin di ekskul ku yang satunya. Disana aku lebih bisa nyaman dengan orang-orangnya. Kegiatannya juga jarang serius, lebih banyak senang-senangnya. Aneh juga, padahal ini satu-satunya kegiatan yang aku ikuti tapi kakak ku tidak. Tapi sayangnya jadwalnya selalu berbenturan dengan OSIS ataupun pramuka, sehingga aku seringkali tak punya waktu bersama mereka.
Ya memang si, awal aku ikut OSIS dan pramuka karena kakak ku dulu ada di 2 organisasi itu, bahkan pernah menjadi ketua pramuka. Di awal ikut kegiatan, aku memang agak dilirik oleh kakak kelas karena mereka tau kakak ku. Walaupun ia lulus bersamaan dengan aku masuk SMA, sepertinya adik-adik kelasnya sangat berkesan dengan kehadirannya. Hal itu lah yang membuatku semakin ingin seperti dia.
Di tahun ini ada rasa di hati ku untuk mundur saja. Tapi ego ku membantahnya. Kalau abang aja bisa, masa aku ga bisa si? begitu fikirku. Aku yakin asal ada kemauan pasti ada jalan. Kalau memang sekarang aku belum bisa nyaman dengan organisasi ini, ya aku harus cari cara. Kalau aku belum terlihat, ya aku harus bergerak di depan semua orang, tidak perlu terlalu ikhlas, yang penting bisa berkesan di mata orang. Toh selama ini aku berkontribusi ikhlas juga ujung-ujungnya yang dipuji yang muncul di akhir-akhir saja.
Di tahun ini tanpa sadar ku telah perlahan 'membunuh' diriku sendiri.
Kuawali tahun dengan berbagai ekspetasi. Aktif di OSIS aktif di pramuka. Aku hanya ingin keberadaanku bermakna. Bodohnya, justru aku hanya menjadi alat untuk orang lain. Setiap hari fikiranku, fisikku tersita dari proker a ke proker b. Tak ada hari tanpa membahas acara ini itu. Saat itu aku merasa beruntung karena mendapatkan banyak teman, banyak yang merasakan apa yang kurasa, banyak orang yang berkumpul di meja yang sama denganku di kantin, dan banyak yang lewat sambil menyapa.
Lalu....
Bulan Juli tiba, tahun ajaran baru datang. Aku seorang senior sekarang. Bahagia kuawali tahun ajaran ini. Bisa bolos kelas dengan alasan OSIS. Bisa pulang larut untuk kumpul bersama teman-teman.
Tapi.... tidak lama....
Pergantian pengurus pun terjadi, dan apa yang kukerjakan seakan tak ada arti. Pemilihan pengurus OSIS dilakukan, menyisakan aku dan seorang teman yang tak terpilih. Kami berdua memang selalu bersama baik di kegiatan OSIS maupun pramuka. Teman-teman lain yang bersamaku setahunan ini semua terpilih. Hanya kami berdua yang terbuang. Aku tak pernah lupa ucapan sang senior yang bilang bahwa kami adalah 'buangan'. Kata-kata penyemangat datang setelahnya, tapi tak berarti. Dua kali hinaan dalam 1 waktu membuatku tak bisa melihat hal indah lagi dari para senior. Ironisnya, beberapa teman yang baru 1-2 bulan bergabung justru terpilih. Jadi, bahkan aku tak lebih baik dari mereka.
Kami berdua pulang dengan tertunduk lesu. Rasa kecewa jangan ditanya. Sayangnya hari esok tetap datang, dan kami tetap harus masuk sekolah. Kami ceritakan kepahitan ini dengan teman-teman pramuka. Mereka bersimpati, setidaknya kelihatannya begitu. Pergantian pengurus pramuka pun juga dilakukan. dan seperti yang bisa ditebak, aku dan temanku satu itu satu-satunya yang tidak terpilih...lagi. Kami mati rasa. Sudah tidak tau akan berkomentar apa. Bodohnya, saat itu aku belum bisa melihat gambaran besarnya.
Kehidupan setelah 2 kejadian itu menjadi serba salah, serba aneh, dan serba membingungkan. Di satu sisi aku harus terlihat biasa saja karena penolakan itu biasa kan. semua orang pasti pernah mengalami. Satu sisi aku merasa telah kehilangan semuanya. Meja kantin yang biasanya dipenuhi oleh mereka yang kusebut teman, sekarang hanya diisi ku dan temanku satu ini. Bel pulang sekolah yang biasanya menjadi pertanda untuk kita kumpul bersama, jadi sekedar suara bising biasa. Yang paling menyesakkan ketika seseorang teman sekelas ikut berkomentar 'tuh si itu kumpul, lu temennya kok ga ikut?'. Aku tak menyangka bahwa pertemanan setahun ini hanya sebuah program kerja. Bahwa tanpa konteks proker taada lagi yang bisa kita lakukan bersama. Untungnya sang teman wanita ku ini masih disini. Disini aku tau, kalau temanku ternyata memang hanya dia, dan kami berusaha tuk menikmati masa-masa SMA dengan kesendirian yang.... bersama. Akh apa sih....
Sulit untuk menghindarinya. Pada akhirnya kita tetap harus ikut kegiatan-kegiatan yang dibuat kedua organisasi itu. Tak berani keluar karena takut. Takut di cap baperan, takut dikatai di belakang, dan yang terpenting, aku takut, kalau semua akan menjadi baik-baik saja saat aku pergi. Aku takut, bahwa saat aku pergi tak ada yang merasa aku hilang. Aku takut, bahwa ketika aku keluar, maka keberadaanku seakan tak terlihat lagi. Manusia bodoh ini tetap bertahan, untuk sesuatu hal yang tak jelas. Kenyatannya, kendatipun manusia bodoh ini telah menyembunyikan semua rasa kecewa, minder, dan takutnya, keberadaannya tak ada yang menganggap penting.
Rasanya seperti......
Menjadi figuran di kisah hidup sendiri.
Comments
Post a Comment