Pengembaraan 7 tahun #part5: Pioggia

 "Derasanya hujan di kota hujan telah menutupi derasnya air mata." 


Tahun 2017

Tahun dimana aku melihat sang badut juga menangis. Tahun transisi dari aku sebagai maba menuju kehidupan mahasiswa semester tiga. Tahun dimana aku semakin aktif di tempat yang kurasa sangat tepat untukku. Setidaknya saat itu fikirku begitu


Di tahun 2017 aku mulai bermain peran. Bersandiwara, menulis naskah, dan tampil di acara. Tahun ini aku jadi bagian darinya. Peranku bukanlah yang terpenting. Justru kebalikan dari penting. Jika tidak ada tokoh yang kuperankan, tidak ada sedikitpun cerita yang akan berpengaruh.

Awalnya aku dan teman-teman yang menulis naskah. Tapi pelatih yang memilih peran. Memang ada beberapa yang kurang aktif, tapi entah kenapa harus aku yang dapat tokoh itu. Singkat cerita hari pementasan tiba. Semua orang tertawa karena memang lakon ini komedi. Setelah selesai, satu persatu pemeran mendapat bunga, bingkisan, dan hadiah lain dari teman-teman mereka. Penonton yang datang juga menyerbu satu-satu untuk meminta berfoto bersama. Ya kecuali aku.

Saat itu temanku memang cuma mereka sesama pemain, jadi aku tak heran kalau tak ada yang menantikan. Tak kaget juga saat tak ada yang mengajak berfoto. Yang penting aku sudah bisa merasakan pengalaman yang belum pernah ku rasa. Itu saja sudah cukup untuk saat itu.

Tahun kedua di kampus menjadi pengalaman paling melelahkan. Kuliah dan praktikum sampai sore bahkan malam. Laporan dan tugas yang sampai tengah malam. Tak jarang seni peran menjadi pelarianku. Makan malam di kos ditemani kertas-kertas, kalkulator, dan berbagai jenis penggarais yang menunggu digunakan. Namun bukan segera kukerjakan, justru aku keluar dan bergabung bersama teman-teman untuk bersandiwara. Bahkan ada salah seorang pria yang merupakan kakak tingkatku, dia juga sepertiku menjadikan seni  ini sebagai sarana berlari. Kami biasa membaca keras-keras adegan dari drama-drama populer untuk menghilangkan segala penat. Saat disana, aku merasa jiwaku bebas dan lupa dengan tanggung jawab yang sebenarnya. 

Hanya saja, realita ternyata tak semudah itu dihindari.

Aku yang bukan orang kaya seharusnya bisa lebih hemat. Tapi uang ku banyak habis untuk makan-makan, beli barang usaha organisasi, kepanitiaan, dsb. Mungkin kalau dibanding teman-teman pengeluaranku jauh lebih sedikit dari mereka. Namun kirimanku kan juga tak sebanyak mereka. Kadang malam hari sepulang dari teater aku menghitung sisa uangku lagi, sambil menyusun rencana untuk menghematnya lebih ketat lagi. 

Hingga hari kiriman uang dari ortu tiba. Aku pergi ke ATM namun belum dapat kiriman juga. Aku chat kakakku yang juga kuliah di kampus yang sama. Ia bilang uangnya ada di dia dan dia menyuruhku datang ke kos nya. Aku bingung. tumben sekali, biasanya orangtuaku hanya transfer.

Aku pergi ke kos kakak ku untuk minta uang. Ia pergi ke parkiran saat aku memintanya. Aku mengikuti ia dan ia membuka jok motornya. Ada beberapa plastik besar berisikan uang koin. Masing-masing plastik bertuliskan Rp.50.000. Ia menghitung jumlah plastik itu dan membagi dua denganku.  

Aku cuma terdiam, tidak berani bertanya, namun ia jelaskan. Cuma ada tabungan lama, jelasnya. Akupun mengambilnya. Kali ini aku semakin berusaha tak mengeluarkan uang. Bukan hanya untuk berhemat, tapi juga karena malu belanja dengan koin bertumpuk. 

Satu demi satu masalah terjadi. Aku yang belum terbiasa dengan cepatnya irama perkuliahan baru terpontang-panting. Lari ke teater untuk lupakan, namun masalah jua terjadi disana. Ku lari lagi ke kumpulan lainnya, saat masalah terjadi, baru ku kembali ke masalah kuliah. berputar begitu saja tanpa pernah menata diri. Aku kehilangan irama, hanya langkah kaki yang berjalan sendiri. Tidak teratur mengikuti langkah yang entah kemana. Aku berjalan ke utara, tapi saat melihat orang melaju dan aku tak bisa, aku palingkan diri ke timur. Saat badai di timur datang, ku pergi lagi ke selatan, lalu ke barat. Pada akhirnya tidak ada yang aku ikuti. Pada akhirnya aku tidak berada dimana-mana.

Lalu datang momen itu. Saat dimana pentas teater tiba. Aku yang sudah sedia bahkan sebelum matahari tiba, hanya bisa menunggu orang-orang prioritaskan orang lain. menunggu terlalu lama sehingga aku mengisi waktu bermain HP. Aku baru tau sesuatu terjadi di rumah. Kabar sedih bahwa ayahku ada di rumah sakit karena stroke. Itu telah terjadi beberapa hari lalu. Aku tidak diberitau karena berfikir aku juga akan pulang. Tapi aku ikut pentas teater dan tidak pulang ke rumah. Tapi rasanya terlalu tanggung untuk pulang. Apalagi harus bayar transportasi lagi. 

Sehari berselang aku menghampiri kakak ku. Bermaksud meminta tolong akan sesuatu.  Dia manusia ceria. Manusia yang bisa menghadirkan tawa siapapun lawan bicara. Punya banyak teman dan orang-orang yang menghargai. Tapi hari itu tampak sendu. Wajahnya bak awan kumolonimbus yang menahan ribuan air. Dia bertanya kenapa aku tidak pulang, saat mengetahuinya dia tak bisa menahan sok kuatnya lagi. Hatinya dipenuhi petir, dan matanya dibasahi hujan.

Kakak ku bermasalah dengan usahanya, juga skripsinya. Tapi dia tak bilang apa-apa sebelumnya. Saat dia tau kemana aku, pedih di hatinya tak tertahan lagi. Ia mengeluarkan kisah sebenarnya dari kehidupannya dengan penuh tangis. Dalam 19 tahun kehidupanku, inilah momen pertama aku melihatnya menangis. Dulu, ia  bahkan tidak menangis saat masih SD barang yang ia pinjamkan kepadaku hilang. Ia tak menangis saat aku tak sengaja merusak barang berharganya dulu. Melihatnya seperti ini aku sadar betapa tak tertahankannya perasaan di hatinya. Hidup sedang tak mudah untuk ku, tapi jauh lebih tak  mudah untuk semua orang di rumah ku.

Di luar hujan masih sangat deras, sederas hujan dari kedua kakak beradik ini.

Comments

Popular posts from this blog

Pengembaraan 7 tahun #part7: Firmamento

Pengembaraan 7 tahun #part2: Nebbia

Pengembaraan 7 Tahun #part3: Tempesta