Pengembaraan 7 Tahun #part 1: Sereno

"Bagai sinar mentari yang menerangi dari fajar hingga terbenam di sore hari, hari-hari itu begitu cerah, hangat, dan penuh semangat. Hari-hari itu sangat aku rindukan"


Semua bermula pada tahun kesedihan dimana dunia dilanda krisis moneter luar biasa. Di tengah malam berbintang di musim penghujan yang cukup dingin bagi kota yang panas. Tepat pukul 00.10 di suatu ruang bersalin sebuah rumah sakit ini lah aku dilahirkan. Dan dari sanalah pengembaraan bermula.

.

.

@_@

Ehm... Enggak enggak, terlalu panjang kalau dari situ. 

>>Fast forward ke 15 tahun kemudian>>

Tahun 2013

Inilah waktu dimana sebuah akhir datang, dan awal yang baru siap menjemput. Inilah waktu dimana aku meninggalkan masa-masa SMP dan menuju dunia SMA.

Kehidupan SMP itu rasanya begitu bahagia. Kala itu semuanya kucoba. Aku ingin jadi apapun. Imajinasi tak terbatas, waktu yang selalu dipenuhi canda-tawa dan bahagia. Bukan tanpa duka juga si, tapi meski ada hal sedih ataupun memberatkan, tak apa karena yang bahagia lebih banyak. Tahun itu kala terakhirku di SMP sekaligus tahun pertama di SMA. Meski masa SMP berjalan sangat menyenangkan, tapi di tahun terakhir terasa lebih berat. Sebuah kesalahan besar pernah terjadi  setahun lalu. Saat itu aku tak mampu menahan amarah hingga mengatakan yang tidak-tidak, dan akhirnya kehilangan teman-temanku. Ya, kita sudah berdamai sih, tapi sudah tak sama lagi. Karena itu tahun terakhirku, aku mencoba untuk tetap berfikir positif dan bertahan sedikit lagi. Meski agak menyesakkan juga melihat kenyataan bahwa mereka yang selama ini sangat akrab menjadi tidak se terbuka dulu. Selain itu, di masa ini teman-teman tak sembunyi-sembunyi lagi mengutarakan perasaanya padaku. Mengungkapkan apa yang membuat mereka tak menyukaiku selama ini. Ternyata selama ini aku terlalu berfokus pada mereka yang mau bersama denganku, sampai tak pernah peduli pada mereka yang tak suka. Tak pernah peduli mengapa mereka tak suka. Saat itu aku yakin bisa memulai awal yang baru dengan diriku yang lebih baik lagi. 

Aku memiliki seorang kakak yang pada saat itu masih SMA. Dia sering bercerita tentang kehidupan SMA nya yang begitu indah. Bagaimana ia bergaul dengan teman-temannya, ikut organisasi, jalan-jalan study tour dan banyak lagi membuatku tak sabar dengan masa SMA. Rasa bersalah di masa lalu yang masih menghantui serta imajinasi kehidupan kakak ku yang tak pernah ada dukanya membuatku berfikir, sepertinya aku harus jadi  seperti abang agar bisa kembali bahagia. Akupun bertekad untuk berubah. Unuk menjadi pribadi yang seperti  kakakku agar aku kembali disenangi. Akupun mengawalinya dengan masuk di SMA yang sama dengan dia. Saat itu masuk SMA masih menggunakan NEM Ujian Nasional, dan SMA kakak ku itu bisa dibilang bukan sekolah unggulan lah karena siswa yang masuk NEM rata-ratanya masih 7 koma. Disitu aku mendapatkan dukungan dari dia, dia bahkan bilang permata akan tetap jadi permata biar di selokan sekalipun. Ia meyakinkan kalau sekolah yang baik bukanlah dimana input NEM yang masuk tinggi, tapi sekolah yang mampu mengubah mereka yang biasa saja menjadi lulusan yang hebat. Sekolah yang baik bukanlah tempat siswa-siswa unggulan dipertemukan, tapi tempat mencetak siswa-siswa unggulan. WAW...sungguh sangat iklan bukan? Ya singkat cerita akhirnya aku masu ke SMA tersebut. Sekolahnya begitu luas, terdapat 3 buah gedung belajar, kantin yang luas, aula indoor dan outdoor, 3 rumah penjaga sekolah, masjid yang besar, kebun dengan berbagai jenis buah, dan beberapa lapangan. Pertama kali melihatnya aku sudah dibuat takjub. Kebetulan aku memang punya kebiasaan datang di awal waktu, jadi saat sekolah masih  begitu sepi, aku berkeliling menjelajahi sekolah ini. Di sini, baru berjalan beberapa hari saja aku sudah punya banyak teman, bahkan ada teman spesial juga. 

Saat awal MOS, seseorang mengungkapkan ketertarikannya padaku. L.O.V.E. Untukku yang bisa tergolong tidak cantik, hal ini tentu jadi momen yang membingungkan. Bahagia, tapi juga bingung. Sebenernya apa si yang dia liat dari gue? pikirku saat itu. Tapi apapun itu, kurasa aku juga merasakan hal yang sama. Sayangnya kisah cinta ini tidak jelas bagaimana akhirnya, itu karena perubahan kelas. Jadi begini, tahun itu adalah  peralihan kurikulum dari KTSP ke kurikulum 2013 atau Kurtilas(yang kadang diplesetin juga jadi kurikulum tidak jelas). Sebelumnya, jurusan itu ditentukan saat masuk ke kelas 11, namun tahun itu penjurusan dilakukan di awal. Karena sistemnya belum rapi, awalnya kami ditempatkan di kelas sementara dulu, baru dilakukan semacam tes penjurusan begitu, barulah setelah hasilnya keluar kita dtempatkan di kelas sebenarnya. Jadi awalnya aku dan cowok itu sekelas, namun karena penjurusan kami jadi pisah kelas. Setelah saat itu sebenarnya kami masih mengobrol, apalagi kelasnya dia ada di sebelahku, tapi sudah tak begitu akrab lagi. Dan ya begitulah, tidak  ada ending pasti dari perasaan itu. Aku tak pernah lihat dia pacaran dengan siapapun sih, tapi belum tentu juga kan dia masih suka samaku.

Kehidupan awal sekolah rasanya cukup manis. Teman sebangku ku baik, dan kami cukup dekat dengan dua orang yang duduk di belakang kami. Meski begitu, sebagai kelas IPA yang nomornya paling ujung suka disalah artikan oleh beberapa guru. Tak jarang guru yang mengajar membandingkan kami dengan kelas IPA lain. Bilang kami susah diatur, IPA-IPAan, IPA tapi rasa IPS. Bentar, ini guru ngehina kelas kita sekalian ngehina IPS juga nih? Jadi kalo bandel, berisik harus IPS gitu? Lagian bukan kami para murid kan yang menentukan siapa di kelas mana? Siapa yang sangka kalau mereka yang badung bisa kumpul di satu kelas? Bisa dibilang aku cukup vokal di kelas kalau ada hal ketidak adilan. Baik oleh guru maupun sesama teman. Bukan yang aktif banget si, tapi kalo kata orang mah, jarang ngomong, sekalinya ngomong nyelekit.

Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, aku masuk SMA ini dengan ekspetasi kehidupan kakak ku. Bahkan aku sampai punya list apa yang ingin aku lakukan berdasarkan apa yang dulu kakak ku lakukan. Dan langkah selanjutnya yaitu mendaftar OSIS. Aku mengajak teman sebangku ku dan beberapa teman untuk ikut serta mejadi calon anggota. Bisa dibilang, kita kayak anak magangnya OSIS gitu deh, trus tahun depan baru benar-benar jadi OSIS, itupun kalau lolos. Ternyata banyak sekali murid tahun pertama yang ikut juga, dan tentunya, ada dia juga. Iya, si cowok itu. Aku bertemu dengan dia di ruangan tempat pertemuan pertamanya. Dari sana juga, aku akhirnya berkenalan dengan beberapa teman baru. Dan inilah awal dari perubahan dan perjalanan seorang aku.  

Comments

Popular posts from this blog

Pengembaraan 7 tahun #part7: Firmamento

Pengembaraan 7 tahun #part2: Nebbia

Pengembaraan 7 Tahun #part3: Tempesta