Posts

Pengembaraan 7 tahun #part2: Nebbia

 "Seperti kabut yang mengaburkan pandangan mata, terkadang ilusi dan kenyatan menyatu hingga tak bisa dipisahkan. Terkadang kebohongan juga mengandug kebenaran, dan kadang kala kejujuran dibumbui titik kebohongan. Bahkan tidak mustahil jiwa yang asli itu ditutupi kabut yang begitu tebal hingga yang terlihat hanya fisiknya yang penuh tipu" Tahun 2014 Masa-masa awal SMA kujalani dengan penuh ambisi. Juara kelas, les tambahan, ikut organisasi ini itu, ikut acara di luar sekolah, banyak teman, dan dikenal semua orang menjadi target yang ingin ku capai. Selain OSIS aku juga mengikuti kegiatan pramuka dan ekstrakulikuler lain. Berbagai kesibukan menemaniku setiap harinya sampai-sampai putaran waktu terasa menjadi lebih cepat tahun itu. Sepulang sekolah hari ini kegiatan OSIS, besoknya kumpul, weekend kemah pramuka dan sebagainya. Masa-masa sibuk SMA ini lah yang aku inginkan. Harusnya... Entah kenapa aku merasakan kehampaan di diriku. Sedikit rasa tak percaya diri dalam segala hal ...

Pengembaraan 7 Tahun #part 1: Sereno

"Bagai sinar mentari yang menerangi dari fajar hingga terbenam di sore hari, hari-hari itu begitu cerah, hangat, dan penuh semangat. Hari-hari itu sangat aku rindukan" Semua bermula pada tahun kesedihan dimana dunia dilanda krisis moneter luar biasa. Di tengah malam berbintang di musim penghujan yang cukup dingin bagi kota yang panas. Tepat pukul 00.10 di suatu ruang bersalin sebuah rumah sakit ini lah aku dilahirkan. Dan dari sanalah pengembaraan bermula. . . @_@ Ehm... Enggak enggak, terlalu panjang kalau dari situ.  >>Fast forward ke 15 tahun kemudian>> Tahun 2013 Inilah waktu dimana sebuah akhir datang, dan awal yang baru siap menjemput. Inilah waktu dimana aku meninggalkan masa-masa SMP dan menuju dunia SMA. Kehidupan SMP itu rasanya begitu bahagia. Kala itu semuanya kucoba. Aku ingin jadi apapun. Imajinasi tak terbatas, waktu yang selalu dipenuhi canda-tawa dan bahagia. Bukan tanpa duka juga si, tapi meski ada hal sedih ataupun memberatkan, tak apa karena ya...

Sengaja Membuka untuk Menutup

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat, tak terkecuali untuk sang introvert satu ini. Jika sebelumnya aku bisa kos sendiri dan menikmati privasi ku secara penuh, sejak pandemi tiba aku pulang ke rumah dan menikmati hari tanpa privasi. Sejak dulu aku suka menulis. Dan dengan menulislah hatiku jadi lebih lega dan senang. Namun saat pandemi tiba, rasanya jadi sulit menemukan tempat untuk menulis agar tidak bisa dibaca orang. Seluruh buku tulisku dapat dibaca siapa saja. Memang tidak semua rahasia, tapi tetap saja aku tak suka. Tapi mau bagaimana lagi, sulit untuk menyembunyikannya. Oleh karena itu, alih-alih mencari tempat aman untuk menyimpan buku, aku justru melakukan sebaliknya, yaitu mempublish isi buku itu. Hidup ini kadang lucu. Aku yang berusaha rapat-rapat menyimpan buku yang  memuat kisahku, justru ujung-ujungnya masih saja ada yang membaca. Di lain soal, banyak orang yang mencari ketenaran di dunia online dengan mengumbar kisah-kisahnya. Mencari cara ini-itu hanya untuk viral...