Pengembaraan 7 tahun #part4: Fullmine
"Petir terjadi saat bumi dan langit ingin menyamakan persepsi. Petir beserta gemuruh mewarnai hati penuh ragu dan cemasku saat memulai menata dan memantaskan diri di tempat baru. "
Tahun 2016
Bisa dibilang aku anak yang cukup penurut. Kubiarkan orangtua ku yang memilih apapun untukku. Dimana aku sekolah, menu makananku, pakaianku, juga harapan masa depanku. Judulnya memang harapan, tapi terkadang begitu nyata dan detail hingga membuatku takut untuk tak memenuhinya.
Sebagai orang yang terbiasa ikut saja aku jadi bingung ketika harus menentukan masa depan. Awalnya aku hanya ikuti apa kata orangtua. Pilih jurusan yang mirip seperti kakak kedua ku. Tapi tepat sebelum submit data, justru aku berubah haluan dan memilih apa yang kumau.
Singat cerita aku lulus dan berhasil masuk ke PTN di luar kota. Aku akan tinggal di asrama pada tahun pertama. Memulai kisah baru tanpa ke 5 kawan yang telah berpencar ke lima tempat berbeda.
Semua baru, belum ada yang tau aku. Teman satu sekolah juga hanya beberapa dan semua beda fakultas. Untungnya sebelum masuk kuliah masih sempat berkumpul untuk buat tugas ospek bersama. Mereka yang tak pernah akrab dengan ku, ternyata bisa seru juga.
Hari-hari pertama di asrama cukup seru. Berkenalan dengan banyak mahasiswi dari seluruh penjuru Indonesia. Beberapa bawa makanan khas yang bukan saja tak pernah ku lihat sebelumnya, tapi juga tak pernah membayangkan keberadaannya. Aku cukup akrab dengan orang-orang baru yang kutemui. Kepecayaan diriku mulai meningkat. Aku yakin dalam pergaulan aku akan lebih baik daripada masa SMA. Aku juga suka ikut-ikutan dengan rombongan komunitas daerah. Berpinndah dari satu kumpulan ke kumpulan lain. Sampai aku sadar, aku lagi-lagi adalah figuran dalam kisahku sendiri.
Sebagai gambaran, di kampusku ini di kota yang tak jauh dari Ibukota. Semua anak daerah punya komunitasnya yang aktif dan sering punya kegiatan bersama. Semakin jauh asal daerahnya, biasanya semakin erat hubungan antar anggota. Sebenarnya dari kotaku juga ada, tapi saat itu aku justru tak berani untuk ikut. Kenapa?.... hm... kalau dipikir2 sekarang...kenapa ya? Kalau diingat-ingat, saat itu aku punya pemikiran aneh dalam hal pertemanan.
Aku mau terlihat banyak yang kenal, aku mau orang banyak tau aku. Aku mau banyak kenal orang. Tapi aku ga mau ada orang yang benar-benar 'kenal' aku. Jadi terkadang aku ikut dalam kegiatan-kegiatan yang aku tidak suka, hanya agar aku bisa bergaul dengan beberapa teman yang tak terlalu akrab. Kadang justru aku mengabaikan orang baik yang datang, hanya karena aku takut dia 'terlalu kenal' dengan ku. Kadang aku meninggalkan 1 orang yang sudah akrab denganku demi mendeketi 2-3 orang yang cuma lewat. dan saat aku kembali ke 1 orang itu, sudah ada canggung. Damn, aku perlahan berubah menjadi sosok yang dulunya ku benci.
Di tahun pertama perkuliahan, aku berusaha mengikuti sebanyak mungkin kegiatan yang bisa kuikuti. Padahal aku tau uangku terbatas, dan setiap kegiatan pasti ada hal-hal yang menngeluarkan uang. Menjadi dewan gedung asrama, kepanitiaaan ini itu, teater, bahkan hampir ikut pecinta alam juga.
Dulu di masa sekolah, pernah ada 3 temanku yang sangat akrab. Kemana-mana bersama bahkan sampai buat fanspage facebook dan id twitter untuk 'grup' kita. Karena suatu keterbatasan, sekali waktu aku pernah tak ikut dengan kegiatan keseruan mereka. Di hari berikutnya saat mereka cerita, hanya aku yang tidak mengerti. Tapi itu cuma sebentar jadi aku tak masalah. Lalu datang momen itu lagi. Lalu pernah salah satunya berpacaran dengan teman satu sekolah dan aku satu-satunya yang tidak tau. Semakin lama semakin banyak hal-hal yang aku tidak tau. Semakin banyak hal yang ketinggalan. Bahkan mereka akhirnya mulai terbiasa tanpaku. Mereka masih menyapa jika bertemu ku, tapi sudah tidak sama. Sementara persahabatan ketiganya terus terjadi bahkan sampai saat aku menulis ini.
Ingatan itu sepertinya tertanam di kepalaku dan mempengaruhi kehidupan sosial ku di kuliah. terutama di tahun pertama. Dimana aku takut sekali kalau sampai ketinggalan suatu kegiatan. Takut kalau teman-teman lakukan kegiatan tanpaku dan akhirnya ku jadi satu-satunya yang terasing. Jadi meski saat melakukannya petir berkecamuk di kepalaku, tetap ku lakukan yang penting bisa menjaga keberadaan ku di ingatan mereka.
Awal baru menjadi mahasiswa, langkahku lebih banyak memenuhi emosi dibandingkan logika. Terlalu keras berfikir bagaimana cara menanamkan persepsi tentang aku ke orang-orang, sampai lupa hidup biasa saja.
Comments
Post a Comment