Jika hidup hanya membawa derita, lantas apa makna ku bernyawa? Pertanyaan yang sering kuajukan pada diri ini tatkala sedang sendiri. Aku tau, bahwa hidup tak senantiasa tentang kesenangan saja. Bahwa di balik sengsara pasti ada nikmat yang menunggu. Bahwa langit berbadai pun pasti akan cerah, tapi apa itu salahku jikalau sekarang tak bisa bahagia? Lucunya di saat-saat seperti ini orang-orang terdekatku berfikir kalau emosi yang kupunya seperti tombol yang dengan mudah di nyala-mati kan. Kenapa mereka marah ketika aku tak mampu menunjukan bahagia? Aneh, mereka yang buatku bersedih, tapi saat aku mengeluarkan air mata, maka aku yang salah, maka aku akan dihakimi seperti pendosa. Mereka yang membuatku marah, namun saat amarahku muncul mereka bilang aku tak punya hati. Hanya disinilah aku bisa mengeluarkan semua. Kamar ini hanya satu-satunya tempat aku bisa jadi diriku sendiri.
Aku pun mengeluarkan kotak kecil dari rak meja belajarku. Sebuah kotak yang selalu kubuka saat tak mampu menahan perasaan berkecamuk dalam diri. Aku mengeluarkan cutter di dalamnya dan mulai menggoresnya di kedua pahaku, betis ku, kedua tangan dan juga sekitar buah dada. Rasa sakit yang begitu besar datang bersama teriakan tanpa suara. Dua-tiga-empat, atau entah berapa sayatan setelah itu, hati ku pun menjadi sedikit lega. Aku membalut lukanya dengan obat-obatan yang ada di dalam kotak kecil ini, lalu merebahkan diri sambil tersenyum menatap langit-langit kamar. Tanpa sadar aku mulai tertawa, hingga air mataku keluar, dan perlahan justru berubah menjadi tangisan.
"Sampai kapan harus seperti ini?"
"Jika saja ada yang mau mengerti rasa ini, jika saja ada yang mau mendengarkanku, akan kuberikan apapun untuknya"
Angin berhembus kencang, membuat jendelaku tertutup dengan begitu keras. Aku menguncinya dengan benar agar angin tak mempermainkannya lagi. Hujan pun mulai turun, sesekali diikukti sambaran petir. Dari balik jendela, ku lihat ada seseorang. Tak begitu jelas rupanya karena aku ada di lantai 2 sementara ia di depan pagar rumahku yang juga terhalang beberapa pohon di halaman rumah. Sosok berjubah hitam itu tak menggunakan penutup kepala yang ada pada jubahnya, namun nampak tak begitu menghiraukan air yang membasahinya. Angin semakin kencang tapi jubah sosok itu tak merespon aliran angin. Aku membuka sedikit jendela kamarku dan menegurnya.
"Hei... hei.... mau kemana?" Aku melambaikan tangan ke orang tersebut, namun ia seperti tak melihat.
Petir menyambar lagi, dan orang itu pun menghilang. Aku pun menutup jendela kamar dan seketika tubuhku seakan ditutupi kain dari belakang. Sontak aku segera menyingkap kain itu dan berbalik badan. Orang yang tadi kulihat sudah ada di kamarku. Dia tidak kebasahan sama sekali. Jubahnya tak seluruhnya terkancing, dia tak menggunakan baju sehingga aku dapat melihat badan kotak-kotak pria berbadan tinggi ini, matanya yang berwarna merah membuatku sedikit takut. Aku hampir saja berteriak, namun pria itu menutup mulutku.
"Jangan, bagaimana pun aku ada disini karena dirimu" ujarnya yang membuatku semakin bingung
"Apa maksudnya? Siapa kamu? Bagaimana kau bisa masuk kesini? Aku tidak mungkin memanggilmu ke sini."
Ia tersenyum lalu mengajakku untuk duduk. "Aku tau rasa sakitmu"
Aku memalingkan wajah darinya
"Apa maksudnya? Pakai saja baju mu dan pergi dari kamarku dasar orang gila" kata ku sambil berdiri. Tampaknya aku terlalu kencang sampai menjatuhkan kotak kecil rahasia ku. Aku baru saja ingin memungutnya namun pria itu melakukannya lebih dulu dan menaruhnya kembali ke laci.
"Aku tak bisa pergi. Aku selalu disini"
Aku meliriknya dengan tatapan curiga
"Oh ya, aku Brad" sambungnya.
Mataku terbelalak. Bisa-bisanya dia mengaku seperti itu
"Apa maksudmu? Darimana kau tau soal dia? Brad tak ada, tak pernah ada"
"Lantas kenapa kamu mengajak ku bicara setiap malam?" Ia mendekatiku lagi "Aku satu-satunya yang bisa mengerti mu kan?"
"Tapi Brad itu tak nyata. Dia hanya entitas yang ku ciptakan"
Ia menghela nafas panjang 2 kali lalu menjawab ucapanku "Seingatku hari itu kamu masih lah pelajar SMP. Semua orang membencimu akan perbuatan yang tak kau lakukan. Orang yang mem bully mu bersikap seakan ia korban dan berusaha menjatuhkan mu. Bahkan orang tua mu percaya kalau kamu memang jahat. Kamu hampir saja mengakhiri hidupmu saat itu. Kamu mengiris tanganmu sendiri dan berharap ada seseorang yang mau percaya denganmu dan menjadi alasanmu untuk tetap hidup. Mungkin kamu tidak sadar, tapi tindakanmu membuka portal antar dunia kita. Mungkin kamu tidak sadar telah memanggilku dari alam tersembunyi. Aku bukan sosok yang kamu ciptakan, tapi yang kamu panggil. Sejak saat itu aku selalu disini. Aku terikat bersama mu di tempat ini" Jelasnya. Kaki ku lemas, dan tubuh ku bergetar. Ku genggam wajah pria itu dengan kedua tangan ku dan ku lihat dengan seksama.
Aku menggeleng "Tidak, tidak mungkin. Tak ada yang tau hal itu"
"Aku tau semuanya, karena aku selalu disini. Aku hadir dalam mimpi-mimpi mu dan mengusir segala hal buruk yang kau bawa tidur. Aku selalu disini, bahkan ketika kekasih mu memutuskan mu, bahkan saat kedua orangtua mu berpisah dan ayahmu mulai menyalahkanmu atas segalanya. Bahkan ketika ibu tiri mu berusaha menyingkirkanmu dari rumah ini. Atau pun ketika teman mu yang kau selamatkan dari bullying justru berbalik menyerangmu. Aku selalu di sisimu" Aku berbalik ke sisi lain kasur dan mencoba menhindarinya. Aku mulai menyadari kalau suaranya tak asing di telingaku. Ia pun kembali menghampiriku dan menepuk pelan punggungku lalu melanjutkan.
"Aku menjagamu agar tetap hidup meski dunia mu tak ramah. Kamu ingat kan saat adik tirimu yang masih bayi terbentur meja karena ibunya, tapi ayahmu menyalahkanmu dan menyiksamu. Aku tak bisa membantu banyak, tapi asal kau tau, hari itu aku memindahkan sebagian besar rasa sakitmu ke diriku." Aku hanya terdiam mendengarnya. Sesaat suasana sangat hening
"Jadi kamu..... Kamu benar-benar Brad ya? Kamu suara di kepala ku? Aku fikir sejak saat itu aku mulai tidak waras dan mendengar suara-suara yang tak ada"
"Kamu sama warasnya dengan siapapun, aku sudah pernah bilang kan. Kamu hanya kurang mempercayai dirimu"Air mataku seketika jatuh, tapi langsung ku seka. Kata-katanya membuatku yakin bahwa ia tak sedang menipu ku.
"Menangis saja, tak perlu di tahan. Aku tau di dalam tangismu tak hanya berisi 1 makna" ucapnya yang membuat tangis ku pecah. Aku menutupkan mataku di pundaknya dan ia memeluk ku.
"Lantas kenapa baru sekarang aku bisa melihatmu?" Tanyaku padanya
"Mungkin karena ini saat yang tepat"
"Untuk apa?"
"Untuk mengajak mu pergi. Ke dunia ku, ke alam tersembunyi." Lagi-lagi aku kaget dengan perkataannya.
"Tapi aku hidup disini"
"Kau sudah terlalu menahan derita. Kau perempuan yang baik, hanya saja tinggal di dunia yang salah. Di dunia tersembunyi kita bisa menjadi pasangan sempurna"
"Tapi kau bilang kau terikat di tempat ini"
Brad tersenyum, "Ya, karena kamu ada disini. Karena itu ikutlah denganku dan kita buat istana cinta kita"
Aku tersipu tapi ku sembunyikan senyum ku "Cinta? Aku... Agak asing dengan kata itu"
"Tak apa, aku akan membuat mu terbiasa."
Aku tersenyum lebar, kali ini tak bisa ku sembunyikan lagi. "Jadi bagaimana cara nya kesana?"
Ia berdiri dan mengangkat mu dengan kedua tangannya. Badanku cukup berisi tapi ia mampu menggendongku dengan mudah. Wajahku sedikit menunjukkan kengerian, entah sudah berapa lama aku tak pernah di gendong seperi bayi begini. Ia berjalan menuju jendela kamar menuju balkon. Aku berteriak takut terbentur tembok, namun kami justru menembusnya. Di luar hujan tinggal menyisakan rintik-rintik. Tapi kemudian ada angin dari belakang punggung Brad.
"Jangan takut, ini hanya sayap transparan ku. Kita akan terbang secepatnya menuju alam tersembunyi. Kau siap?" Tanya nya. Aku mengangguk. Dengan mengambil posisi seperti orang yang akan mulai berlari, Brad mengepakkan sayapnya dan melesat ke angkasa. Dari celah tubuh Brad kulihat rumah yang ku tinggalkan. Selamat tinggal ayah. Kau tak perlu memikirkan ku lagi. Selamat tinggal ibu tiri bodoh, kamu menang, aku pergi. Selamat tinggal ibu, yang kini bahagia tanpa ingat aku. Dan juga.....
Selamat tinggal....
Tubuhku...
Yang terkulai lemas bercucuran darah di atas kasur.
-
Comments
Post a Comment